Posted by: gusaa | October 31, 2007

Mitos Malam Jumat Kliwon

Di langit, bulan sudah tak bersinar lagi, hanya awan hitam tipis yang tampak berayun beriring. Ketika angin malam berdesir mengusik rimbunan semak tua yang mengering. Sesekali terdengar sayup jerit burung malam menyeruak membelah keheningan. Saat sejuk embun mulai membasahi malam yang tengah terlelap. Gurat keheningan alam seketika lenyap tatkala remang cahaya suluh membias dipekatnya malam.

Riuh lolongan anjing-anjing kampung menyalak garang menyahut cacian gerombolan warga desa memaki seorang gadis cantik. Suci, gadis malang yang menjadi korban kebringasan warga memelas memohon ampun. Tatapan nanar mengiba Suci tak mampu meredam emosi para warga. Serempak warga pun membantai Suci yang dituduh sebagai dukun santet di desa itu. Tendangan, pukulan, sabetan dan tusukan benda tajam menghujam ke tubuh mulus Suci. Suci tewas mengenaskan dengan mata terbelalak. Dan Suci pun bersumpah, “Di malam ini … Malam Jum’at Kliwon, tanah ini saya kutuk selamanya!”

Dua paragrap di atas merupakan sekelumit kisah awal dari film layar lebar yang berjudul “Malam Jum’at Kliwon” yang dikutip khalifah dari http://www.indosinema.com.

Tak dapat dipungkiri bagi sebagian besar penduduk Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, malam jum’at kliwon memiliki arti tersendiri. Penuh dengan keangkeran dan keramat. Sebuah malam yang dijejali aroma mistis dan menyimpan berjuta misteri.

Entah siapa dan mengapa malam jum’at kliwon begitu ditakuti dan dijadikan sebuah malam yang istimewa bagi seseorang atau masyarakat yang meyakini bahwa malam itu memiliki makna tersendiri. Namun, kebanyakan malam ini disalah artikan dan dipergunakan untuk hal-hal yang bertentangan dengan syariat islam. Seperti ritual-ritual yang justru mengarah kepada syirik dan pemujaan kepada setan atau iblis. Naudzubilahimindzalik

Dalam konteks inilah, banyak orang mensalahartikan makna dan keistimewaan malam jum’at. Entah itu malam jum’at kliwon atau malam jum’at dengan “pasaran” lainnnya.

Di antara hari-hari dalam satu minggu, hari Jum’at memiliki nilai dan keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam. Hari Jum’at, banyak sekali tuntunan dan ajaran Islam yang layak kita ketahui. Pada hari itu ada keutamaan-keutamaan yang tidak kita dapatkan pada hari yang lain. Pada hari itu terdapat ibadah-ibadah yang jarang dilakukan pada hari lain.

Sayangnya, kemuliaan hari Jum’at sering kali dinodai oleh sebagian orang atau kelompok tertentu dengan mengkhususkannya dengan hal-hal yang tidak ada penjelasannya dalam Islam, bahkan melakukan hal-hal yang dilarang Islam.

Oleh karena itu, di antara jaran Islam yang semestinya diketahui setiap muslim adalah hal-hal yang berhubungan dengan hari Jum’at. Agar jangan sampai kita salah memaknai hari Jum’at.

Namun, sebelum kita membahas keistimewaan dan ibadah apasaja yang sering dilakukan pada hari jum’at, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu alasan mengapa malam jum’at kliwon memiliki arti tersendiri bagi sebagian orang.
            Dalam numerologi jawa, hari dan pasaran memiliki nilai. Berikut nilai hari dan pasaran jawa ;

 

Nama hari = Neptu ( nilai )

1. Ahad            = 5
2. Senen           = 4
3. Selasa          = 3
4. Rabu            = 7
5. Kamis          = 8
6. Jum’at          = 6
7. Sabtu           = 9

Nama Pasaran Neptu (nilai )

1. Legi                         = 5
2. Paing           = 9
3. Pon              = 7
4. Wage           = 4
5. Kliwon        = 8

 

            Dari nilai-nilai inilah kita akan melakukan perhitungan. Jum’at nilainya adalah 6 dan kliwon nilainya 8. Kombinasi atau gabungan keduanya adalah 68. Sesuai dengan urutan surah dalam Al Quran, surah ke-68 adalah Al Qalam (pena).

            Ayat awal surah Al Qalam di awali dengan huruf Nun, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. Sedangkan Nun adalah huruf ke-25. Menurut arti ‘ain, ‘ain ke-25 artinya lingkungan. Bila ditarik sebuah kesimpulan sederhana, malam jum’at kliwon mengisyaratkan untuk kita meramaikan lingkungan dengan pena (qalam). Artinya, menumbuh kembangkan lingkungan dengan senantiasa belajar melalui perantaran pena. Sebagaimana dijelaskan pada surah Al ‘Alaq ayat 4, “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam”.

            Setelah kita mengkombinasikan nilai jum’at dan kliwon atau 6 dan 8 yang menjadi 68, sekarang kita mengkombinasikannya dengan jalan menjumlahkan kedua angka tersebut, yaitu 6 + 8 = 14.

Surah ke-14 adalah Ibrahiim. Ada pelajaran menarik yang dapat kita ambil hikmah dari Nabi Ibrahim. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, Ibrahim menolak penyembahan berhala dan berpegang teguh kepada Allah semata, satu-satunya Tuhan yang sebenarnya. Dalam Al Quran, perjalanan hidup Ibrahim digambarkan sebagai berikut :

 

Ketika malah telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : “Sesungguhnya jika Tuhnaku tidak memberikan petunjuk kepadakum pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah tuhanku, ini lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

(QS. Al An’an: 76-79).

            Setiap manusia memiliki caranya masing-masing dalam rangka mencari dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla. Proses pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim mengajarkan kepada manusia bahwa ada kekuatan maha dahsyat yang mengatur semua ini.

            Kaitan dengan jum’at kliwon, kadang kala dipamahi secara salah. Mereka justru melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan mengerjakan sebuah dosa yang tidak diampuni. Hal ini tergambar dalam surah Al An’am ayat 74-75, “ Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdpat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin.

            Nyatanya, justru malam jumat kliwon dipahami secara berbeda dan dijadikan malam keramat yang identik dengan bermunculannya setan, hantu atau apalah sebutannya.

            Well, di sisi lain, antara surah Al Qalam dan Ibrahiim memiliki kesamaan. Kesamaan yang dimaksud adalah kedua surah itu memiliki jumlah ayat yang sama, yaitu 52 ayat. Adanya kesamaan ini, khalifah bukan melihat sebuah kebetulan, tapi memiliki tujuan.                     

            Allah menciptakan segala sesuatu serba berpasang-pasangan. Begitu juga dengan surah dalam Al Quran. Misal, surah ke-1 berpasangan dengan surah ke-114, surah ke-2 dengan surah ke-113, surah ke-3 dengan surah ke-112 dan seterusnya. Bila dicermati, nilai pasangan itu adalah 115 (1 dan 114, 2 dan 113, 3 dan 112 dan seterusnya).

Al Qalam adalah surah ke-68, maka pasangannya adalah surah ke-47. Jadi, pasangan surah Al Qalam adalah surah Muhammad (surah ke-47).

Sebelumnya kita mendapati surah Ibrahiim, kali ini kita bertemu dengan surah Muhammad. Kedua surah ini juga memiliki “keseimbangan” tersendiri. Sebagaimana ketika kita mengucapkan tasyadud atau takhiyat dalam shalat, Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahiim kita ucapkan.

Setelah meneladani Nabi Ibrahim, kini ada “perintah” baru untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad. Sudah diketahui bersama bahwa Rasulullah adalah Al Quran yang berjalan. Artinya, selain mengikuti sunah juga menjalankan apa yang diperintahkan dan menjahui apa saja yang dilarang dan diharaman dalam Al Quran.

            Tak lengkap rasanya bila kita tidak mengkaji juga dari sisi lainnya. Yang dimaksud sisi lainnya adalah bahwa malam jum’at kliwon sama dengan kamis malam dengan pasaran harinya kliwon. Nah, kamis juga memiliki nilai, yaitu 8. Jadi nilai keseluruhannya adalah 88 (kamis = 8 dan kliwon =8).

            Surah ke-88 adalah Al Ghasyiyah (hari pembalasan) dengan jumlah ayatnya 26. Menariknya, jika nomer surah dijumlahkan dengan total ayatnya, maka hasilnya adalah 114. Seperti kita tahu bahwa jumlah surah dalam Al Quran adalah 114 surah.

            Artinya, selain meramaikan lingkungan dengan senantiasa belajar, pada penjelasan ini semakin dilengkapi, yaitu belajar atau mempelajari Al Quran.

            Sering kita amati, tidak sedikit umat muslim yang memiliki aktivitas khusus pada malam jum’at, yaitu membaca surah Yaasiin. Atau yang lebih akrab dengan sebutan Yasinan. Sebenarnya, budaya Yasinan ini juga mengarah pada hal yang sama. Begini penjelasannya.

            Jumlah ayat Al Quran adalah 6236 (bukan 6666). Nah, bila angka 6236 dibagi menjadi dua bagian (bukan dibagi dua), maka kita akan mendapatkan angka 62 dan 36. Sekarang rujuk kedua angka itu menjadi urutan surah Al Quran. Surah ke-62 adalah Al Jumu’ah dan surah ke-36 adalah Yaasiin.

            Melihat hal ini kita mengambil mudahnya, yaitu malam jum’at membaca Yaasiin. Mungkin saja isyarahnya tidak semudah atau sesederhana itu. Makna lainnya adalah membaca Al Quran 6236 ayat atau mudahnya bertadarus.

            Memang, Allah menciptakan semua hari dengan keistimewaan masing-masing. Salah satunya adalah hari jum’at. Dengan keistimewaan yang dimiliki hendaknya kita mengisi hari itu dengan ibadah dan hal-hal yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

Penjelasan singkat ini perupaya mengajak pembaca untuk memahami sesuatu secara menyeluruh sehingga mendapatkan hikmah dan tidak terjebak pada hal-hal yang justru menjauhkan kita dari Allah. Bukan melakukan ritual yang keluar dari syariat dan menghamba kepada setan atau sebangsanya.

Allahumma waffiqna. Wallahua’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: